Pasikola Toolkit PulseLab

Pada tahun 2016, Pemerintah Kota Makassar meminta dukungan UNDP untuk mendorong orang memakai sistem transportasi umum dan mengurangi kemacetan lalu lintas. UNDP berkolaborasi dengan Yayasan Bursa
Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) dan Pulse Lab Jakarta dalam penggagasan sebuah prakarsa untuk menjawab permintaan tersebut.

Pedoman ini berisi temuan dan pembelajaran dari prakarsa tersebut, Prakarsa ini merupakan bagian dari program City-I-LEAPS (City Innovation through Learning, Exchanging, Adapting, Prototyping and Scaling) sebuah kemitraan
pertukaran pengetahuan dan bantuan teknis melalui Innovation Exchange Network yang dibentuk oleh Pemerintah Metropolitan Seoul dan Biro Regional UNDP untuk Asia dan Pasifik. City -I-LEAPS bertujuan mengubah pertukaran
pengetahuan tradisional melalui penggunaan rancangan reka cipta (design thinking) dan reverse engineering; mengusulkan solusi yang memenuhi kebutuhan masyarakat secara kolaboratif; mengembangkan purwarupa yang akan diuji dan evaluasi; dan mengembangkan desain yang sukses dalam skala yang lebih besar. Kolaborasi antara UNDP, BaKTI dan PLJ dibentuk untuk memfasilitasi berbagai aspek dari program City-I-LEAPS.

Kami memulai prakarsa ini dengan penelitian pengguna pelayanan publik dan dilanjutkan dengan proses desain kolaboratif berbasis warga, inkubasi, pembuatan dan uji coba purwarupa. Walaupun prakarsa ini masih berjalan
dan saat ini sudah melewati tahapan pilot, kami membatasi pedoman ini dengan pelajaran yang kami peroleh sampai tahap uji coba purwarupa.

Pedoman ini bukan…
a) panduan untuk merancang metodologi desain (ada banyak di luar sana!), juga bukan b) studi kasus sederhana tentang proyek kami.

Pedoman ini adalah…
Sebagai praktisi pembangunan, proyek-proyek yang kami lakukan bervariasi baik dari sisi materi maupun metoda – kami telah mencoba memakai berbagai pendekatan, mulai dari analisis big data ke perancangan berbasis manusia (human-centred design) sampai ke perpaduan antara keduanya. Dari pengalaman kami bekerja dengan berbagai mitra, kami menyadari bahwa penyelenggaraan pelayanan publik membutuhkan pemahaman mendalam tentang kondisi pendukung dan orang-orang yang tepat. Mengabaikan salah satu dari hal tersebut dapat mempengaruhi keberhasilan proyek. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan antara lain budaya dan identitas lokal, konteks sosial dan politik, pemilihan pemangku kepentingan yang tepat mulai dari desain sampai implementasi, dan menjaga keefektifan tim.

Tujuan pedoman ini adalah agar organisasi di sektor publik dapat menyiasati penyelenggaraan pelayanan publik yang rumpil. Pedoman ini membantu mengembangkan gambaran tentang tantangan dalam memastikan penyelenggaraan pelayanan publik yang efektif dan berkualitas. Gambaran tersebut akan menjadi alat dalam memandu proses perubahan; bergerak dari identifikasi masalah ke konsep terukur, dan dari konsep ke pilot yang
sudah teruji.

Pedoman ini bersifat fleksibel, artinya pedoman ini juga dapat melayani berbagai keperluan, tergantung kebutuhan pengguna layanan, misalnya:
• Sebagai alat pandu sebelum memulai proses mendesain pelayanan publik
• Sebagai cara mengevaluasi pelayanan yang ada dan menentukan langkah selanjutnya
• Sebagai cara untuk menilai bagaimana organisasi lain menyelenggarakan layanan
• dan tujuan lainnya.

selengkapnya sila unduh pada tautan di bawah

Makassar Report-INDONESIA – Pasikola Toolkit PulseLab

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *