Kaswadi: Pasikola Bukan Sekadar Mobil Antar Jemput Anak Sekolah

SMPN 3 Makassar adalah sekolah yang terpilih pertama kali ketika penentuan sekolah tempat pelaksanaan uji coba atau yang biasa kami sebut masa Piloting. Pemilihan SMPN 3 Makassar yang beralamat di Jl. Baji Gau ini karena melihat kondisi  jalanan area sekolah yang sangat padat dan macet.

Pemilihan SMPN 3 Makassar sebagai sekolah piloting pertama atau Piloting 1.1 ini tak terlepas dari kondisi area sekitar sekolah yang padat dan macet. Dalam kawasan di mana SMPN 3 Makassar berlokasi terdapat banyak sekolah. Sebut saja, SMAN 2 Makassar dan SMPN 24 Makassar yang sama-sama terletak di Jl. Baji Gau. Masih di Jl. Baji Gau ada pula SDN Kompleks Sambung Jawa dan Kampus Politehnik Kesehatan. Tak jauh dari SMPN 3 Makassar, ada SMAN 11 Makassar di Jl. Mappaodang, SMAN 8 di Jl. Baji Bicara. Belum lagi SMKN 1 Makassar dan SMPN 1 Makassar yang berada tak jauh dari situ. Bisa terbayangkan betapa padat dan macet kawasan tersebut pada jam-jam sekolah, utamanya di pagi dan sore hari. Tak mengherankan jika Dinas Perhubungan dan Dinas Pendidikan Makassar memutuskan memilih SMPN 3 Makassar sebagai sekolah target pada Piloting 1.1 yang dimulai pada Mei 2017.

Drs. Kaswadi, Kepala Sekolah SMPN 3 Makassar mengaku tak begitu memahami apa itu Pasikola saat pertama kali bertemu dengan Dishub dan BaKTI. Namun, dengan seiring perjalanan masa uji coba ada banyak hal positif yang beliau rasakan terkait dengan kehadiran layanan Pasikola di sekolah yang ia pimpin. “Awalnya saya tak begitu memahami apa itu Pasikola. Ternyata Pasikola bukan sekadar mobil antar jemput anak sekolah tapi banyak hal positif yang ada di dalam program Pasikola ini yang tentunya menjadi nilai tambah bagi anak-anak” ungkapnya saat ditemui Tim Pasikola, Senin 05 Februari 2018.

Pada saat sosialisasi, yaitu Mei 2017, tantangan yang dihadapi oleh Tim Pasikola adalah meyakinkan orang tua siswa. Tak semua orang tua siswa bisa memahami dengan cepat apa itu Pasikola. Di sinilah peran pihak sekolah membantu dalam meyakinkan orang tua untuk mengikutkan anaknya bergabung dalam layanan Pasikola. Terlebih, selain orang tua, siswa pun harus mendapat pemahaman yang sama tentang Pasikola saat sosialiasasi. “Orang tua memang beda-beda tipenya, ada yang cepat memahami ada juga yang sulit. Di situlah sekolah hadir memfasilitasi untuk meyakinkan orang tua dan anak bahwa Pasikola ini lebih aman, nyaman dan tentunya bisa tepat waktu” kata kepala sekolah yang mengantarkan SMPN 3 Makassar meraih juara 1 kategori music tradisional dan menari pada Festival dan Lomba Seni Nasional tingkat Provinsi Sulsel di Asrama Haji Sudiang, 23 – 24 Juli 2017 dan membawa SMPN 3 mewakili Sulsel di tingkat nasional.

Kepala sekolah SMPN 3 Makassar, yang juga merupakan sekolah piloting Sistim aplikasi berbasis BOS Non Tunai,- ini merasa beruntung terpilih sebagai sekolah piloting Pasikola dan berharap bisa mengurangi kemacetan di kawasan tersebut.  Meski bukan termasuk jalan yang dilalui moda transportasi umum,  Jl. Baji Gau ini sangat macet di pagi hari dan pada saat anak-anak pulang. “Dengan adanya Pasikola ini, salah satu manfaatnya tentu bisa mengatasi kemacetan karena siswa yang selama ini mungkin diantar-jemput oleh orangtuanya satu per satu sekarang tidak lagi seperti itu karena sekarang diantar satu mobil yaitu mobil Pasikola” tuturnya.

Nilai tambah dari Pasikola menurut Kaswadi adalah pada interaksi antar siswa dalam armada Pasikola selama proses pengantaran dan penjemputan. “Siswa yang tadinya introvert atau sulit bergaul, dengan adanya Pasikola ini bisa bersosialiasasi dengan teman-temannya, minimal yang dalam satu mobil itu” jelasnya. Selain itu, menurut beliau, anak-anak jadi terdidik untuk lebih disiplin dan saling menghargai satu sama lain.

Tak hanya itu, fasilitas yang ada dalam armada Pasikola juga mendapat perhatian dari Pak Kaswadi yang merasa fasilitas Pasikola, utamanya perpustakaan mini, membawa manfaat yang bagus bagi anak-anak didiknya yang menikmati layanan Pasikola. “Saya liat ada buku disiapkan di mobil. Jadi anak-anak, bisa saja sambil duduk baca-baca buku. Di sini ada unsur edukasi, membiasakan anak-anak membaca dan mengembangkan literasi.”

Ibu Hj Darmawati, Wakasek Kesiswaan SMPN 3 Makassar juga menambahkan pihak sekolah merasa senang dengan kehadiran Pasikola karena merasa terbantu dengan pengawasan peserta didik mereka. “Yang pertama itu keamanan siswa, yang kedua itu ketepatan waktu sudah terjamin. Tidak khawatir lagi terjadi hal-hal (yang tidak diinginkan pada siswa) karena selama anak-anak belum sampai rumah itu masih tanggung jawab kami” tambahnya.

Pak Kaswadi melihat keberadaan pete-pete konvensional saat ini tidak efektif lagi karena kekurangan penumpang dan berharap bisa dialihkan ke Pasikola. Beliau menyampaikan harapannya agar pengemudi pete-pete konvensional lainnya dapat bekerjasama dengan pengelola Pasikola sehingga dapat melayani sekolah-sekolah lain. “Semoga pete-pete yang lain juga bisa diakomodir sehingga program Pasikola bisa melayani banyak sekolah” tutupnya.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *